Wednesday, February 11, 2026

Cegah Kriminalisasi Melalui Dewan Etik Guru

 

Oleh : Masbahur Roziqi

Penulis adalah guru bimbingan dan konseling SMAN 1 Kraksaan Kabupaten Probolinggo

Profesi guru ternyata masih rentan. Seperti yang terjadi belakangan ini adanya pelaporan guru kepada aparat penegak hukum karena tindakan pendisiplinan murid. Seperti laporan adanya dugaan kekerasan verbal pada sebuah SD swasta di daerah Tangerang Selatan dan dugaan kekerasan fisik kepada murid oleh guru di daerah Muaro Jambi. Padahal guru yang dilaporkan menyampaikan jika mereka melakukan pembinaan. Guru yang dilaporkan melakukan kekerasan fisik mengaku melakukan sentuhan fisik namun tidak melukai mulut murid karena menyampaikan kata-kata jorok kepada guru setelah ditegur dan dipotong rambutnya karena berambut panjang. Sedangkan guru yang dilaporkan kekerasan verbal mengaku melakukan pembinaan terkait perlunya para murid peduli pada temannya yang terjatuh dan tidak meninggalkannya, dan itu dia lakukan di depan murid-murid serta tidak menyasar nama murid.

Tentu fenomena ini miris. Profesi guru di sekolah akan selalu beririsan dengan interaksi bersama murid. Selama interaksi, tidak ada jaminan akan berjalan positif dan selalu berada pada iklim tenang. Beragamnya karakter murid dan guru menjadi tantangan. Guru sebagai profesi dituntut memiliki kemampuan untuk mendampingi murid tidak hanya berupa pembelajaran akademik, melainkan pendampingan penumbuhkembangan karakter baik. Senyampang berada pada koridor tidak melakukan kekerasan yang mengakibatkan luka baik fisik maupun mental pada murid, maka para guru berupaya melakukan yang terbaik bagi murid. Jika murid melakukan tindakan positif tentu bapak ibu guru akan melakukan penguatan tindakan itu. Bisa berupa reward pujian maupun menjadikan murid tersebut contoh bagi teman lainnya. Namun jika tindakan negatif yang dilakukan murid, guru akan melakukan tindakan untuk menunjukkan pada murid bahwa tindakan itu tidak tepat dan perlu diganti dengan yang lebih tepat. Tentu cara yang dilakukan bapak ibu guru ketika mengingatkan tindakan negatif murid ini bervariasi. Ada yang lebih memilih menggunakan pendekatan verbal, ada pula yang menggunakan pendekatan kombinasi verbal dan fisik untuk membantu murid memunculkan tindakan baiknya.

Potensi gesekan terjadi ketika pendekatan verbal dan fisik yang guru lakukan dinilai oleh murid melanggar kenyamanan mereka. Apalagi saat ini informasi mengenai hak-hak anak juga bisa diakses siapa pun dan dimana pun. Pendekatan yang guru lakukan pun akan dibandingkan dengan kenyamanan dan hak-hak mereka. Apakah itu wajar atau melanggar hak. Guru tentu tidak bisa menghindar dari adanya realita ini. Sehingga dalam melaksanakan pendampingan perlu juga mengedepankan pemahaman dan praktik pemenuhan hak-hak anak yang telah diatur peraturan perundang-undangan seperti UU perlindungan anak.

Sayangnya pada beberapa kasus pelaporan tersebut, tindakan pendampingan dan pembinaan guru yang menurut beberapa murid dipandang melanggar hak anak bermuara pada pelaporan ke aparat penegak hukum. Fenomena ini akhirnya berpengaruh pada rentannya guru dilaporkan secara hukum saat menjalankan profesinya. Padahal dinamika pembinaan dan pendampingan akan selalu ada. Gesekan pun juga berpotensi muncul. Seperti pada kasus guru yang mencukur rambut murid yang panjang, tentu bagi murid itu ancaman. Karena guru telah menyentuh area privasi mereka yaitu bagian fisik. Sementara guru berupaya melatih murid untuk berdisiplin dalam mengikuti aturan tata tertib sekolah, dan tindakan mencukur rambut tersebut menurut beliau bagian dari pendekatan fisik yang diharapkan membantu murid menyadari pentingnya disiplin mematuhi aturan sekolah. Ketika akhirnya muncul gesekan berupa murid melepaskan kekecewaannya berupa kata-kata kotor, dan guru meresponnya dengan tindakan fisik, maka di situ lah terjadi konflik. Saat dinamika dalam profesi ini telah masuk ranah hukum, tentu akan potensi berdampak para guru bisa enggan melakukan peneguran pada murid karena sekecil apa pun tindakan fisik akan berurusan dengan mekanisme hukum.

Kritik atas fenomena ini sebenarnya lebih kepada belum adanya lembaga negara yang tegas mengelola munculnya konflik dalam pelaksanaan profesi guru. Seperti dewan pers untuk sengketa pers, konflik dalam ranah profesi guru ini diperlukan pemaksimalan fungsi Dewan Etik Guru (DEG). Hal ini lah yang sampai saat ini abai muncul pada sistem pendidikan kita. Padahal keberadaan DEG akan membantu mengurai jika terjadi permasalahan dalam hal pelaksanaan profesi guru. DEG bisa menjadi wadah bagi para murid dan wali murid untuk melaporkan tindakan profesi yang menurut mereka tidak sesuai dengan pemenuhan hak anak. Rekomendasi DEG pun perlu bersifat mengikat dan menjadi pegangan bagi bagian kepegawaian daerah dan pemerintah pusat untuk menjatuhkan sanksi etik bagi bapak ibu guru yang terbukti melakukan pendampingan yang tidak sesuai kode etik guru.

Adanya DEG ini dapat memberi jalan tengah bagi bapak ibu guru agar tidak tiba-tiba langsung dibawa ke ranah hukum pidana jika ada pihak yang menengarai telah terjadi dugaan pelanggaran profesi guru. DEG menunjukkan guru bukan profesi superpower yang tidak bisa dikritisi, sehingga terbuka untuk menerima dan memproses aduan dugaan guru yang abai menjalankan perannya. Melalui DEG pula lah akan dapat ditegaskan jika pelanggaran tersebut murni etik saja atau bisa direkomkan ke ranah pidana. Termasuk memberikan sanksi etik jika terbukti dan pemulihan nama baik jika tidak terbukti. Mekanisme ini lah yang selama ini belum hadir sehingga pihak-pihak yang keberatan dengan praktik profesi guru memilih menggunakan jalur hukum untuk mendapatkan keadilan.

Sebenarnya pemerintah juga telah menerbitkan permendikdasmen nomor 4 tahun 2026 mengenai perlindungan guru dan tenaga kependidikan. Satgas perlindungan guru menjadi bentuk lembaga adhoc yang akan melindungi guru dari praktik-praktik pelecehan profesi. Unsur satgas berasal dari organisasi profesi dan pemerintah daerah tempat guru bernaung secara kepegawaian. Perkembangan perlindungan ini juga perlu disinkronkan dengan munculnya Dewan Etik Guru (DEG). Sehingga ada keadilan untuk para guru. Bagi para guru yang merasa mendapat kekerasan dan pelecehan profesi dari pihak lain dapat melapor pada satgas perlindungan guru dan pihak lain dapat melaporkan pada DEG terkait dugaan pelanggaran oleh guru. Dengan demikian fenomena adanya pelaporan pidana guru dalam menjalankan profesinya dapat menurun dan guru lepas dari bayang-bayang kriminalisasi. Semoga.

Wednesday, July 13, 2022

3.3.a.10. Aksi Nyata - Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

 Program Berdampak pada Murid, Mengapa Tidak?

Oleh : Masbahur Roziqi 

Calon Guru Penggerak SMAN 1 Kraksaan Angkatan IV kelas 91



    Nano nano. Itu ungkapan kata saya saat menulis awal tentang aksi nyata modul 3. Banyak warnanya. Warna yang dominan tentu warna cerah. Seru sekali. Seperti yang saya tulis pada refleksi modul 2 dan 1. Selalu ada kejutan dan hal baru pada tiap modul. Ini sungguh mengasyikkan. 

    Pada aksi nyata modul 3 ini ternyata juga tidak kalah seru. Menjadi pemimpin pembelajaran untuk pengembangan sekolah jadi menu utama modul terakhir Pendidikan Guru Penggerak (PGP). Terbagi menjadi tiga, mulai dari pengambilan keputusan, pemimpin pengelolaan sumber daya, hingga pengelolaan program berdampak pada murid. Aksi nyata yang saya pilih berkaitan dengan program sekolah antikorupsi untuk kelas X. Dalam hal ini kelas X MIPA 3. 

    Program sekolah antikorupsi saya pilih karena semakin masifnya praktik korupsi yang sebagian telah diekspos oleh media massa. Tidak hanya skala nasional, melainkan pada tingkat lokal kabupaten Probolinggo. Sebut saja kasus tindak pidana korupsi yang telah menjerat bupati Probolinggo aktif, Puput Tantriana Sari, atau biasa disapa bu Tantri. Tentu fenomena ini menjadi pemantik pentingnya para murid untuk mengenal, memahami, menginternalisasi, dan akhirnya mampu melawan korupsi. 

    Para murid juga bagian dari masa depan negeri ini, sehingga alasan untuk mengenalkan korupsi pada fase perkembangan mereka yang sudah berpikir abstrak, justru akan lebih mengena. Murid pada tingkat SMA dapat saya ajak untuk mengenali fenomena korupsi melalui berbagai contoh. Ada berita media online hingga film antikorupsi indie yang bisa digunakan sebagai media layanan. 

    Aksi nyata sekolah antikorupsi saya awali dengan diskusi bersama para murid kelas X MIPA 3. Saya menggali mengenai perspektif mereka terkait pengalaman antikorupsi. Kemudian bersama para murid memutuskan menggali tentang pengalaman dan pengetahuan antikorupsi melalui film antikorupsi. Film yang dipilih merupakan film yang telah memenangkan penghargaan dari Komisi Pemberantasan Korupsi dengan judul Persenan. 



    Film tersebut para murid X MIPA 3 pilih karena kedekatan mereka terkait profesi yang menurut mereka baru yaitu sebagai pekerja kreatif dalam dunia perfilman. Dalam film antikorupsi itu para pekerja film menghadapi tantangan berupa kejahatan korupsi yang mereka hadapi saat berurusan dengan birokrasi. 

    Kegiatan pendidikan sekolah antikorupsi dimulai dengan melihat film antikorupsi Persenan. Kemudian masing-masing anak yang terbagi dalam kelompok kecil melakukan refleksi. Apa yang mereka rasakan ketika menjadi korban korupsi yang dialami pekerja film dalam film tersebut? Bagaimana sikap mereka ketika menghadapi oknum aparat birokrasi yang korup serta memeras mereka dengan menggunakan kuasa dan kewenangannya?

    Diskusi berlangsung intens dan tiap anak menyusun dialog antar anggotanya melalui hasil diskusi. Kemudian mereka berbagi hasil interdialognya dalam satu kelompok kepada teman satu kelas. Pada tahap ini sungguh seru. Banyak murid menyampaikan pertanyaan dan pendapatnya berkaitan dengan bahasan dari kelompok yang maju. Sekaligus secara mandiri mereka menunjukkan apa yang ki Hadjar Dewantara sampaikan yakni, para anak didik diharapkan dapat membenci kejahatan dan cinta pada kebaikan. 



    Lalu jika muncul pertanyaan, bagaimana perasaan saya saat melaksanakan aksi nyata? Saya bahagia sekali melaksanakan aksi nyata bersama para murid. Sebab saya mendapatkan gagasan-gagasan baru mengenai antikorupsi dari para murid. Seperti misalnya perlunya mengadakan pekan antikorupsi saat seminggu jelang hari antikorupsi sedunia setiap tanggal 9 Desember. Kemudian ada pula ide membuat teater antikorupsi, berkolaborasi dengan ekstra teater SMAN 1 Kraksaan. Yang penting pula saya merasa senang, para murid mulai berempati kepada korban korupsi, dan menyadari korupsi dapat mengancam keberlangsungan nasib negara ini kelak. Termasuk masa depan mereka dan keturunan mereka kelak. Sehingga mereka bersedia untuk turut serta berjuang melawan korupsi dengan peran masing-masing. 

    Selain itu saya mendapatkan pembelajaran dari kegiatan aksi nyata ini baik dari keberhasilan maupun kekurangan/kegagalan. Dalam aksi nyata ini saya berhasil memantik murid untuk menumbuhkan empatinya terhadap korban korupsi, dan memantik mereka memunculkan gagasan-gagasan antikorupsi. Kemudian bisa pula memunculkan kepedulian mereka terhadap praktik korupsi yang menggerogoti negeri ini. Ada pun kegagalan yang dialami yakni belum terwujudnya kolaborasi bersama guru mata pelajaran lain dan wali kelas untuk menggemakan kegiatan aksi nyata ini melalui kegiatan besar di sekolah. Misal pekan antikorupsi sekolah. Hal ini saya upayakan untuk bisa dikelola dengan nantinya mengusulkan program pekan antikorupsi pada program Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) pada bulan Desember. Bertepatan dengan hari antikorupsi sedunia. 

    Sementara itu, perbaikan terus saya upayakan rencanakan dan lakukan dari hasil pembelajaran atas pelaksanaan aksi nyata modul 3 ini. Yakni lebih menguatkan kolaborasi lagi dengan guru lintas mapel dan anak-anak esktra teater dalam melaksanakan pekan antikorupsi pada bulan Desember. Ini sebagai bentuk makin menguatkan dampak sekolah antikorupsi. Yakni menumbuhkan budi pekert atau watak murid yang antikorupsi. Semoga. 


Monday, May 30, 2022

KAM 3.2.a.9- Pengelolaan Sumber Daya

   Oleh : Masbahur Roziqi (CGP Angkatan IV Pendidikan Guru Penggerak)
 Pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya. Keren sekali. Saya sangat menikmatinya. Belajar mengenai kepemimpinan pembelajaran. Belajar pula tentang pengelolaan sumber daya. Keduanya saling terkait. Tidak terpisahkan. Bagian integral satu dengan lainnya. Ketika menguasai kepemimpinan maka untuk selanjutnya harus menguasai pengelolaan sumber daya. Dan tentu ujungnya nanti untuk membuat program yang berdampak bagi murid. 
    Ketika menjadi pemimpin pembelajaran, kita belajar banyak hal mengenai paradigma pengambilan keputusan. Bahwa pengambilan keputusan itu bukan hanya mengenai bagaimana memutuskan sesuatu an sich. Melainkan ada beberapa paradigma yang wajib seorang individu perhatikan. Seperti paradigma mengenai bujukan moral dan dilema etik. Agar tidak terjebak pada keputusan yang lebih banyak blunder bagi pelaksanaan program itu sendiri. 
    Nah kepemimpinan pembelajaran itu menurut saya juga berkelindan dengan pengelolaan sumber daya. Ketika kita mampu mengambil keputusan berdasarkan menghindari bujukan moral dan mengelola dilema etika untuk kepentingan terbaik bagi anak, maka selanjutnya menganalisis sumber daya. Kelola kekuatan atau sumber daya yang ada. Sebaiknya menghindari fokus pada kelemahan. Namun merujuk pada apa saja sih kekuatan yang bisa kita maksimalkan. Sehingga kelemahan yang ada dapat tertutupi oleh pemberdayaan sumber daya atau kekuatan sekitar kita. 
    Saya berupaya mengimplementasikannya dengan contoh ketika saya mengajak anak-anak membuat kesepakatan kelas. Dalam penyusunan kesepakatan kelas itu saya mendorong anak untuk mengeluarkan gagasannya, mengkritisi usulan kesepakatan teman, hingga bahkan mengusulkan usulan baru. Tentu ini menjadi bagian dari pengambilan keputusan dari dilema etika. Kemudian terkait pengelolaan sumber dayanya, ini dapat dikaitkan dengan saya memperhatikan berbagai aspek. Diantaranya aspek SDM, yaitu anak-anak SMAN 1 Kraksaan terbuka dan kritis dalam menyikapi suatu topik. Ada pula mengenai budaya, yakni budaya saling menghormati dan menghargai atas pendapat teman lain. Kesemuanya saya ramu dalam topik pembuatan kesepakatan kelas tersebut. 
    Tentunya dengan penerapan pengelolaan sumber daya itu, penciptaan iklim pembelajaran berkualitas akan lebih mungkin terlaksana. Ini karena setiap aspek kekuatan atau sumber daya diperhatikan dan dimaksimalkan. Sehingga pembelajaran yang terjadi berbasis pada pemanfaatan kekuatan atau sumber daya yang sekolah miliki. Contohnya di SMAN 1 Kraksaan kita memiliki sumber daya manusia berupa dominannya guru yang telah memiliki sertifikat pendidik dan berbagai prestasi tingkat nasional dan daerah. Kemudian beliau-beliau juga memiliki dedikasi mendidik murid seperti anak sendiri. Hal itu ketika mampu kita kelola sebagai bagian dari sumber daya dan dirawat dengan maksimal, tentu akan menghadirkan pembelajaran yang berpihak pada anak. Demikian pula dengan adanya sumber daya finansial yang cukup besar mampu mendukung pemenuhan sarana pendukung belajar bagi anak di sekolah. 
    Jika ada yang bertanya apa modul pengelolaan sumber daya ini berkaitan dengan materi sebelumnya? Saya pastikan menjawab iya. Semua materi dalam modul satu dan dua juga berkaitan dengan materi pengelolaan sumber daya. Pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran sosial emosional, dan coaching misalnya merupakan bagian dari keterampilan pra pengelolaan yang harus dimiliki sebelum mengelola sumber daya. Dengan menerapkan pembelajaran yang berpihak pada anak, kita akan lebih banyak peka dan mendengar. Bahkan kita bisa melatih diri untuk memiliki sensitivitas pedagogis. Sebuah kepekaan pada diri kita dalam menerapkan ilmu pedagogik dalam kehidupan profesional sebagai guru. Demikian pula dengan modul 1. Pemahaman mengenai hakikat pemikiran KHD merupakan basis bagi seorang pengelola sumber daya. Bahwa pemikiran KHD yang merupakan soko guru pendidikan nasional kita harus terpatri dan kita hayati lebih dulu dalam kegiatan analisis sumber daya yang sekolah miliki. 
Ada pun bagaimana dengan pemikiran anda sebelum dan setelah mengikuti pelatihan terkait modul ini? Perubahan itu ada. Saya mulai mengetahui apa itu aset yang harus dimaksimalkan. Dan bagaimana sebagai calon guru penggerak mampu memaksimalkan aset yang ada untuk menciptakan sebuah program yang berdampak pada murid. Hubungannya sangat erat. Ketika sebelumnya saya hanya berpikir program itu hanya dibuat oleh manajemen sekolah dan berbasis deficit based thinking, ternyata keliru. Harusnya asset based thinking. Ini yang saya peroleh. 

Thursday, April 21, 2022

KAM MODUL 3.1-Kesimpulan

     Makin mendekati akhir nih. Saya sudah mencapai modul 3.1. Temanya tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Sekarang coba saya kaitkan dengan filosofi pratap triloka. Prinsip ini tentu bisa menjadi sebuah landasan seorang pemimpin pembelajaran mengambil keputusan. Artinya sebagai pemimpin menjadi teladan dan keputusan yang diambil berdasarkan kebijaksanaan. Hasil pergumulannya menjadi teladan bersama para pihak yang terlibat dalam ekosistem sekolah. 

    Tentu dalam pengambilan keputusan itu pula akan dipengaruhi oleh nilai-nilai yang saya anut dan tertanam dalam diri saya. Prinsip yang saya ambil tentu juga akan mengacu pada nilai yang berada pada diri saya. Misal nilai yang tertanam adalah nilai kejujuran, tanggung jawab, bekerja keras, tentu pengambilan keputusan akan mendasarkan pada nilai tersebut. 

    Kegiatan terbimbing yang saya lakukan pada proses coaching dengan fasilitator dan pengajar praktik berjalan sangat lancar. Dengan fasilitator, saya mendapat coaching berkaitand dengan pengujian dan penguatan atas pengambilan keputusan yang telah saya ambil. Pembeda dengan pendamping, fasilitator banyak berkomunikasi melalui daring. Sedangkan dengan pendamping, saya banyak bertemu darat, atau offline, dan sesekali juga melalui daring. Problem dilema etika dalam pengambilan keputusan mendapat verifikasi dan validasi melaui pengujian sembilan langkah. Dan ini lah yang bersama saya lakukan dengan fasil dan pendamping pada proses coaching guna pengambilan keputusan. 

    Aspek sosial emosional dalam kaitannya dengan pengambilan keputusan tentu tidak bisa saya lepaskan begitu saja. Aspek ini berperan penting dalam memastikan pengambilan keputusan kita. Seperti aspek keterampilan relasi dan empati. Kemampuan guru untuk mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan membawa pengambilan keputusan ke arah lebih matang. 

    Hal ini juga beralku berkaitan dengan pembahasan studi kasus yang berkaitan dengan moral dan etika. Ini tentunya kembali akan berpengaruh dengan nilai dan kondisi pengelolaan sosial emosional sang guru/pendidik. Dengan memerhatikan hal tersebut pengambilan keputusan yang tepat dan matang berpotensi sangat berpengaruh positif pada pembentukan lingkungan yang kondusif, aman, dan nyaman. Apalagi ini kaitannya dengan menumbuhkan ekosistem pembelajaran yang menjadi taman bagi anak. 

    Selanjutnya tentu selain hal positif dan kelebihan yang saya rasakan, tentu ada pula kesulitan yang saya hadapi berkaitan dengan pengambilan keputusan. Kesulitannya tentu ketika menghadapi dilema untuk kasihan kepada teman atau orang yang memiliki kedekatan dengan saya. Sehiingga keputusan yang saya ambil lebih berpotensi bias dan berpihak sesuai kepentingan saya. Sehingga perlahan memang harus terus saya latih untuk lebih berpatokan pada sembilan uji. Dan latihan ini tentu juga untuk melakukan perubahan paradigma pengambilan keputusan di lingkungan saya. 

    Demikian pula kegiatan pembelajaran yang memerdekakan murid akan erat berhubungan dengan pengambilan keputusan yang positif dan berpihak pada anak. Ketika keputusan itu berujung pada prinsip berpihak pada anak, maka pengajaran memerdekakan murid itu akan masuk di dalamnya. 

    Akhirnya memang pengambilan keputusan seorang pemimpin pembelajaran dalam ekosistem sekolah memang mempengaruhi kehidupan dan masa depan murid. Semakin pengambilan keputusan sesuai dengan keberpihakan pada murid, kenyamanan dan keamanan murid, maka mereka akan mampu fokus dan menikmati perjuangan menggapai masa depannya. Demikian pula sebaliknya. Maka yang akan murid dapat adalah kondisi sekolah yang tidak mendukung pengembangan potensi murid. 

    Modul ini tentu berkaitan dengan modul sebelumnya. Modul ini merupakan muara awal yang dilandasi oleh modul sebelumnya. Modul 1 berfokus pada penguatan diri, dan modul dua berkaitan dengan interaksi dengan orang lain, dan modul ini berfokus bagaimana seorang CGP dapat melatih diri mengelola kepemimpinan dalam ekosistem sekolah. Ketiganya berkelindan untuk mewujudkan CGP yang paket komplit. Memimpin sekolah berdasarkan poteni memaksimalkan kepemimpinan pembelajaran yang selalu CGP proses lakukan. 

Saturday, April 16, 2022

Ambil Keputusan, Perlu Langkah Andalan

Oleh : Masbahur Roziqi

Calon Guru Penggerak  SMAN 1 Kraksaan Angkatan IV Kabupaten Probolinggo

     Waktu terus begeser mengantarkan saya menuju ke penghujung modul yang harus saya pelajari dari guru penggerak. Kali ini saya sampai pada modul 3.1. Apa yang terjadi? Saya kembali menggelengkan kepada dan mengernyitkan dahi. Ini materi apaan ya? Hmm, baru lagi nih. Itu lah gumaman yang saya dengarkan dari relung pikiran saya. Gumaman itu terlintas beserta pikiran penasaran ketika saya saya membaca eksplorasi konsep modul 3.1 ini. Ada beberapa konsep yang jujur belum pernah saya dengar sebelumnya. Apa saja itu?

    Ada empat paradigma, tiga prinsip pengambilan keputusan, dan sembilan langkah uji pengambilan keputusan. Ada pula dilema etika dan bujukan moral. Ketiksa saya lihat video-videonya dan kalimat pada materinya, wow saya pernah mengalami ini. Namun namanya saya tidak tahu. Terjawab sudah penasaran saya. Namanya itu dilema etika dan bujukan moral. Satu ilmu baru lagi buat saya. Terus bersumber nih ilmu di modul guru penggerak ini. 

    Bermunculan lah berbagai kegiatan lanjutan, mulai dari ruang kolaborasi hingga terakhir saya bersama kelompok melakukan penyajian hasil diskusi kami pada ruang kolaborasi. Serunya kami membahas bersama tentang demo PGRI yang membela guru dimutasi, sangat dilema etik, dan diskusinya berlangsung seru plus menyenangkan. 

        Setelah mengikuti kegiatan pengenalan dan pemahaman awal tentang pengambilan keputusan ini, saya tentunya pasti entah kapan akan mengalami atau berhadapan berkaitan dengan dilema etika. Pertanyaannya, bagaimana rencana saya ketika hal itu terjadi? Tentu ke depan saya akan menerapkan apa yang saya alami dari pengalaman mempelajari modul 3.1. Dengan menerapkan konsep-konsep mulai dari mengenal paradigma pengambilan keputusan hingga sembilan uji, pengambilan keputusan yang saya lakukan akan lebih komprehensif. 

    Ada pun mengenai efektivitas pengambilan keputusan dapat saya ukur dengan mengetahui dampak dari pengambilan keputusan tersebut. Semakin keputusan itu lebih banyak mendatangkan manfaat, maka langkah pra pengambilan keputusan tersebut sudah tepat. Proses itu juga melibatkan pihak-pihak yang menurut saya dapat membantu untuk mereview keputusan yang akan saya buat. Sehingga ada umpan balik yang saya dapatkan untuk makin menguatkan kualitas keputusan yang akan saya ambil. 

    Penerapan pengambilan keputusan ini tentunya akan saya terapkan dalam kegiatan sehari-hari saya sebagai guru dan rekan sejawat. Ada banyak dinamika yang tentunya akan terjadi pada setiap aktivitas profesional. Pada murid, saya tentu akan banyak bersinggungan kaitannya dengan layanan bimbingan dan konseling. Entah itu layanan dasar yang sudah rutin saya lakukan (bimbingan klasikal dan bimbingan kelompok) atau layanan responsif berupa konseling individu, konseling kelompok. Dari gesekan dinamika itu tentu kemungkinan akan muncul dilema etika. Tentu dengan bekal melakukan uji pengambilan keputusan hingga memikirkan paradigma dan prinsip tersebut akan membuat saya lebih menikmati pengambilan keputusan dengan sistematis dan rasional. 

    Demikian juga dengan rekan sejawat. Tak jarang kita akan berhadapan dengan teman sejawat yang menyampaikan beberapa hal. Entah berkaitan dengan tugas guru atau kondisi jenjang kariernya. Bahkan kaitannya dengan pembenahan data guru di dapodik. Tentu dengan memastikan melaksanakan pencermatan pengambilan keputusan, maka kondisi deadlock dan burnout dapat saya minimalisir terjadi.

    Kalau ada yang menanyakan kapan anda akan melakukannya? Saya akan melakukannya mulai sekarang. Minimal lah kalau ingin melihat perkembangan, saya akan coba satu bulan ini melaksanakan pengambilan keputusan dalam kondisi dilema etika. Tentu harapannya apa yang telah saya pelajari dari modul 3.1 ini dapat membantu saya mengambil keputusan dengan lebih komprehensif dan manusiawi. 

Monday, March 28, 2022

KONEKSI MATERI 2.3-COACHING MANTAP BERSAMA MURID DAN TEMAN SEJAWAT!

 Tiba saatnya saya kembali berbagi koneksi antar materi pada penghujung modul dua. Tepatnya modul 2.3 yang menurut saya sangat membahagiakan. Apalagi materinya mengena sekali, coaching. Hmm, baru sih kalau saya tahunya. Setahu saya bahasa coaching itu lebih kepada hal-hal berbau kepelatihan sepak bola. Eh ternyata ada pada materi modul guru penggerak. Coaching dalam dunia pendidikan persekolahan, hmm menarik juga. 

    Benar dugaan saya, setelah saya mengikuti materi coaching ini, kereeen. Sesuai dengan yang KHD sampaikan bahwa kita membersamai anak sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya. Termasuk pula kita melatih empati kita untuk bersama teman sejawat melaksanakan tugas dengan lancar. Dengan praktik coaching ini membuat saya dan bapak ibu guru lainnya memiliki keterampilan untuk mendampingi murid dan sesama sejawat mengatasi problematika atau tantangan yang sedang mereka hadapi. 

    Dengan menguasai keterampilan coaching, saya mampu mengajak anak untuk menggali potensi dirinya. Setelah potensi tergali, maka berupaya untuk mendapatkan kekuatan dirinya menyelesaikan apa yang sedang dia alami saat ini. Coach terus memaksimalkan kemampuan bertanya dan menparafrase apa yang coachee sampaikan untuk menjadi bagian dari penyelesaian atau langkah awal penyelesaikan tantangan atau masalah yang sedang coachee hadapi. 

    Ada pun hubungan antara pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran sosial emosional dengan praktik coaching ini tentu sangat erat. Ketiganya baagaikan satu tubuh. Saling menjiawai. Pembelajaran berdiferensiasi membutuhkan warna kompetensi sosial emosional untuk berkembang. Keduanya terwujud dalam praktik coaching ketika memberdayakan murid yang sedang mengalami hambatan. Sehingga prinsip no one left behind (sesuai moto SDG's) tetap terjaga. 

    Akhirnya modul 2 ini saya akui benar-benar sangat jozz. Saya mendapatkan banyak insight untuk terus berjuang menjadi lebih baik dalam memberdayakan anak didik. Termasuk bagaimana merancang sebuah kegiatan layanan BK atau pembelajaran berdasarkan karakter dan potensi anak. Salam guru penggerak!!

Tuesday, March 15, 2022

Koneksi Materi 2.2

KSE dan Diferensiasi, Siapa Takut?
    Saya membuka tulisan ini dengan dua topik yang saya pelajari pada modul 2.1 dan 2.2. Pertanyaan yang say ajukan pada khalayak netizen, siapa takut? Ini memiliki makna bahwa kompetensi sosial emosional dan diferensiasi itu erat sekali kaitannya. Saling melengkapi dan mengisi. Berkait satu sama lain. Percaya apa tidak? Anda tidak percaya? Mari kita diskusikan pada tulisan ini. 
Pada modul 2.1 saya banyak belajar mengenai diferensiasi. Apa itu diferensiasi hingga bagaimana sih pembelajaran berdiferensiasi itu seharusnya terjadi. Dari pembelajaran diferensiasi saya mengetahui mengenai pentingnya guru mengetahui profil belajar murid. Terutama saat akan mengajak murid untuk berproses belajar bersama dan mengalami pengalaman belajar bersama. 
    Dari diferensiasi, bisa guru ketahui tentang minat murid, gaya belajarnya, hingga kesiapan belajar murid. Sehingga guru tidak tiba-tiba melakukan penyamarataan pada murid. Melainkan bisa melakukan kelola kelas dan anak sesuai profil belajar mereka masing-masing. 
Lantas apa hubungannya dengan KSE?? Bukannya keduanya modul yang terpisah? Tentu saja ada kaitannya. Salah satu kaitannya yakni guru harus memiliki keterampilan relasi, kesadaran sosial, dan individu kaitannya dengan pembelajaran berdiferensiasi. Menyadari bahwa guru dan murid merupakan makhluk sosial yang senantiasa saling membutuhkan. Sehingga perlu saling memahami, terutama dengan bekal data diferensiasi yang guru telah kantongi terlebih dahulu sebelum melakukan pembelajaran. Tentu dengan kesadaran sosial, guru akan lebih berusaha memahami murid dibanding kesadaran sosial itu tidak tumbuh. 
    Demikian pula dengan keterampilan relasi, dengan memetakan profil belajar murid, maka guru akan mampu lebih menerapkan keterampilan relasinya dengan lebih baik. Murid akan terfasilitasi keunikannya dengan guru mampu menghargai keunikannya tersebut melalui keterampilan berelasi sang guru. 
    Dari beberapa hal tersebut, kaitan KSE dan diferensiasi sangat kentara terlihat. Makin humanis guru, menghargai keunikan, dan mengelola perbedaan yang ada pada murid, akan membuat pembelajaran berdiferensiasi semakin niscaya akan terjadi. Semoga berikutnya dan seterusnya, pembelajaran berdiferensiasi berbasis kompetensi sosial emosional makin menjadi trend pendidikan mengasyikkan berikutnya bagi murid. 

Wednesday, February 23, 2022

Koneksi Antar Materi 2.1

 Berdiferensiasi, Siapa Takut!!

Oleh : Masbahur Roziqi 

Calon Guru Penggerak SMAN 1 Kraksaan Kabupaten Probolinggo

    Pembelajaran berdiferensiasi. Hmm, baru lagi nih. Lagi-lagi PGP sukses membuat saya penasaran. Itu lah awal perasaan yang muncul pada diri saya ketika membaca awal mengenai pembelajaran berdiferensiasi. Saya pun berulang kali membaca materi mengenai pembelajaran berdiferensiasi ini. Termasuk melihat beberapa video yang telah LMS tayangkan. Ternyata menarik. Karena menjabarkan bahwa perbedaan individu itu niscaya. Termasuk perbedaan para murid. Penyamarataan berarti mengingkari fitrah perbedaan murid itu. 


    Lantas pembelajaran berdiferensiasi ini hadir. Menjadi sebuah upaya menjembatani perbedaan murid itu ke dalam pembelajaran. Tidak lagi hanya pada satu-satunya opsi yaitu pembelajaran sama untuk semua. Melainkan ada diferensiasi atas fenomena adanya perbedaan karakteristik murid. 

    Kesimpulan saya mengenai pembelajaran berdiferensiasi ini sederhana sih. Ini pembelajaran yang menawarkan adanya akomodasi cara menampung perbedaan yang ada pada murid. Perbedaan pada apa saja kah? Dapat dilihat pada tiga hal. Kesiapan belajar, minat, dan profil belajar murid. Ini lah konsep inti dari pembelajaran berdiferensiasi. Termasuk juga jenisnya, ada jenis diferensiasi konten, proses, dan produk. Ini sebagai bagian dari ikhtiar menjembatani perbedaan tiap murid. 

    Tentu saja pembelajaran berdiferensiasi ini membantu murid untuk bisa terfasilitasi perbedaannya. Seperti misal ketika guru telah mengetahui mengenai gaya belajar tiap murid, maka pembelajaran dapat beliau rancang menyesuaikan dengan gaya belajar itu. Bisa pada diferensiasi konten, proses, maupun produk. Sehingga murid belajar sesuai dengan karakteristik gaya belajar dominannya. Tentu akan berdampak. Yakni murid belajar dengan enjoy karena sesuai dengan gaya belajar yang dia nyaman melakukannya. Mulai dari konten yang guru sajikan, dia menikmati, kemudian saat proses pun dia mendapat kesempatan untuk belajar sesuai gayanya, dan terakhir, dia mendapat kesempatan memproduksi karyanya sesuai gaya belajarnya. Tentu sangat indah. 

    Ada pun kaitan pembelajaran berdiferensiasi ini tentu sangat berkaitan. Dengan budaya positif sangat sinkron. Dalam pembelajaran berdiferensiasi ini, guru memiliki posisi kontrol manajer. Guru mampu untuk memberdayakan murid sesuai dengan karakteristiknya mengikuti pembelajaran secara maksimal. Selain itu tentu saja pembelajaran berdiferensiasi menjadi bagian upaya menumbuhkan kepemimpinan murid. Murid berpacu menjadi inisiator atas kegiatan belajarnya sendiri yang telah sesuai dengan gaya belajarnya. Dengan lebih enjoy, dia mendapatkan upaya maksimal itu mengantarkannya memperoleh pengalaman belajar menyenangkan. 

Wednesday, February 9, 2022

Berbagi Aksi Nyata Modul 1-Keyakinan Kelas Mantap Jiwa!

Oleh : Masbahur Roziqi

Calon Guru Penggerak SMAN 1 Kraksaan Kabupaten Probolinggo Angkatan IV  

Akhirnya tiba juga saatnya berbagi. Kali ini saya akan berbagi aksi nyata saya pada modul satu. Kegiatan aksi nyata awal saya yang sangat berkesan. Mengapa berkesan? Karena ini hal baru yang saya alami. Dan tentu saja hal baru ini saya laksanakan dengan antusias. Yuk saya akan bercerita. 

    Kegiatan aksi nyata ini merupakan bagian memperkenalkan dan mengaplikasikan konsep budaya positif di sekolah. Konsep itu antara lain perubahan paradigma, mengenal disiplin positif dan teori motivasi perilaku, mengenal keyakinan kelas, mengenal pemenuhan kebutuhan dasar individu, mengenal posisi kontrol guru,  dan terakhir yakni mengenalkan segitiga restitusi. Keenam konsep budaya positif itu menjadi konsen saya dalam melaksanakan kegiatan aksi nyata di sekolah dan saat mendiseminasikannya pada bapak ibu guru di SMAN 1 Kraksaan. 

Budaya positif ini sungguh ideal jika bisa konsisten kita terapkan di sekolah. Dengan mengenal posisi kontrol dan pemenuhan kebutuhan dasar individu misalnya. Guru bisa lebih mengerti posisi murid. Termasuk dapat pula menentukan posisi kontrol guru. Mau jadi penghukum apa mau jadi manager. Atau bahkan lebih memilih menjadi teman atau pemantau? Ini keuntungan memahami dan menerapkan budaya positif. 

Termasuk juga ketika guru mampu mengetahui motivasi perilaku. Setiap orang dan tentu murid, tentu digerakkan oleh motivasi. Entah itu motivasi intrinsik atau ekstrinsik. Dengan mengenal, mengetahui, dan mampu menumbuhkan motivasi intrinsik, guru membantu murid untuk lebih berdaya. Menggerakkan segenap daya dan upayanya untuk mencapai kesejahteraan dirinya melalui motivasi yang terbangun dalam dirinya. 

    Dan yang tidak kalah seru tentunya adalah segitiga restitusi. Pada kegiatan ini ada tiga hal yang bisa guru lakukan. Validasi tindakan salah hingga menanyakan keyakinan. Tentu pada tindakan-tindakan ini, tujuan utamanya bagaimana membuat murid berdaya. Mampu mengetahui nilai kebajikan yang telah mereka sepakati bersama dalam sebuah keyakinan kelas untuk menyelesaikan perilaku tak produktif mereka. 

    Konsep budaya positif ini sungguh sangat menginspirasi saya dalam merumuskan aksi nyata. Saya susun lah aksi nyata berupa penginternalisasian budaya positif itu ke dalam lingkungan sekolah. Yakni salah satunya membentuk keyakinan kelas. Kemudian saya juga melatih segitiga restitusi untuk menghadapi anak yang melakukan perilaku malasuai. 

    Pada pembentukan keyakinan kelas saya mengenalkannya pada sebagian kelas bimbingan yang saya ampu. Sebanyak tiga kelas. Tiga kelas ini saya ajak untuk bersama merumuskan keyakinan kelas. Teknisnya yakni saya mengenalkan dulu apa itu keyakinan kelas, dan bagaimana mekanisme perumusannya. Saya mengajak anak-anak untuk membagi dalam kelompok-kelompok kecil, atau saya menyebutnya keluarga kecil. 

    Jadi tiap keluarga itu lah yang mengusulkan masing-masing usulan keyakinan kelasnya. Mereka mengusulkan keyakinan kelas pada tiap keluarganya, kemudian keyakinan kelas yang mereka usulkan itu akan dibahas bersama teman-teman satu kelas. Untuk kemudian mendapatkan saran dan kritik dari teman-temannya. 

    Pada tahap ini, murid-murid berlatih mandiri untuk memberikan saran, dan kritik kepada temannya. Sedangkan bagi keluarga penyaji maka berlatih untuk mendengarkan dan menanggapi atas saran dan kritik yang teman mereka lontarkan. Keterampilan mendengarkan dan menyampaikan pendapat ini juga menjadi bagian dari keterlibatan murid dan mendorong kepemimpinan murid. 

    Saat ini tahapan perumusan keyakinan kelas masih terus berlangsung dan terus melatih murid untuk bersama membuat keyakinan kelas bersama. Dari keyakinan kelas itu lah, budaya positif akan dimulai dan harapannya terbiasa dilakukan anak-anak saat ini dan seterusnya. 

    Dalam perumusan keyakinan itu pun melatih anak-anak menyampaikan kritik dan sarannya. Sehingga dapat menyampaikan berbagai masukan kepada temannya untuk pembuatan keyakinan kelas. Kemandirian untuk menyampaikan kritik dan saran itu pula yang menjadi bagian dari menumbuhkan kepemimpinan murid. 

    Akhirnya, memang kegiatan pembiasaan budaya positif ini sangat seru. Dan tentu tantangannya juga ada. Namun saya selalu bersemangat melaksanakannya. Demi pendidikan humanis yang terus tumbuh di sekolah. 










Wednesday, November 10, 2021

Koneksi Pemikiran Antar Materi Modul 1.2 Ala Masbahur Roziqi

 Aku Guru Penggerak: Siapa Takut!

Masbahur Roziqi

Calon Guru Penggerak SMAN 1 Kraksaan Kabupaten Probolinggo

Peserta Pendidikan Guru Penggerak Angkatan IV


Salam dan Bahagia!!

    Belajar mengenai nilai dan peran guru penggerak pada modul 1.2 ini makin meyakinkan saya. Ya saya yakin bahwa saya bisa jadi guru penggerak, dan oleh karenanya saya bisa menjawab: siapa takut. Hehehe. Pada modul 1.2 ini saya lagi-lagi mendapat kejutan mengenai nilai dan peran guru penggerak. Ternyata nilai dan peran GP setelah saya pelajari dan resapi, benar-benar bermanfaat ke depan. Lantas apa ya koneksinya pada materi ini? 

    Pertama yang saya pahami mengenai nilai guru penggerak yakni pedoman saya nantinya saat berperilaku menjadi guru penggerak. Ada lima nilai yang harapannya menjadi peodman bagi saya ketika berjuang menjadi guru penggerak. Nilai itu antara lain mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid. Kelima nilai ini penting menjadi acuan bagi saya saat melaksanakan kegiatan sebagai guru penggerak. Lantas terkait dengan peran bagaimana? Tentu juga berkaitan, nilai ini juga melandasi peran yang juga dimiliki oleh guru penggerak yaitu peran sebagai pemimpin pembelajaran, coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi dengan guru lain, mewujudkan kepemimpinan murid, dan menggerakkan komunitas praktisi. 

    Kedua, muncul juga pertanyaan, apa juga ya kaitannya nilai dan peran guru penggerak ini dengan filosofi KHD? Saya dengan yakin akan menjawab kaitannya sangat berkait. Alasannya nilai dan peran guru penggerak ini merupakan pengejawantahan prinsip KHD yang salah satunya menghamba pada anak, dan mengajak anak untuk mampu mengatur hidup tertib damai. Dengan mengetahui dan menerapkan nilai serta peran guru penggerak maka prinsip KHD tersebut telah bapak ibu guru penggerak terapkan. Seperti nilai berpihak pada murid dan mewujudkan kepemimpinan murid, hal itu merupakan bagian dari prinsip KHD yakni menghamba pada anak. Ini lah kaitan filosofi KHD dengan nilai dan peran guru penggerak. 

    Ketiga, strategi saya dalam melaksanakan gambaran diri saya pada bagian demonstrasi kontekstual terdiri atas beberapa hal. Strategi pertama yakni dengan menguatkan kolaborasi bersama semua pihak di sekolah, mulai dari rekan guru lain, bapak ibu staf tenaga administrasi sekolah, orang tua, komite, dan manajemen sekolah. Hal ini penting untuk memastikan komunitas di sekolah memahami dan memiliki komitmen senada dengan kita untuk mewujudkan transformasi pendidikan merdeka dan humanis di sekolah. Strategi kedua, yakni mewujudkan kegiatan layanan BK yang memerdekakan dan humanis bagi anak. Dengan terus melatih diri agar konsisten menerapkan layanan BK yang merdeka dan humanis untuk murid, saya melatih diri untuk dapat terus berinovasi, berefleksi, dan berpihak pada murid pada setiap layanan yang saya berikan. Strategi ketiga, terus belajar baik melalui pengalaman maupun pengetahuan orang lain. Dari kegiatan terus belajar akan membuat kita makin kaya bahan untuk refleksi. 

    Keempat, pihak-pihak yang dapat membantu saya mencapai strategi tersebut tentu saja antara lain kepala sekolah dan tim manajemen sebagai peran pengambil kebijakan strategi sekolah. Dengan berpartner bersama beliau-beliau maka usulan kita dapat dielaborasi dan harapannya dapat masuk dalam program sekolah. Pihak guru dan staf TU, beliau berperan membantu saya untuk terus memantapkan diri melaksanakan kolaborasi dalam melayani para murid. Baik melalui pembelajaran yang berpihak pada murid, dan pelayanan administrasi ramah anak. Pihak orang tua dan komite yang memegang peranan besar dalam membantu sekolah turut mendidik para murid selepas dari sekolah. Karena pendidikan berlangsung sepanjang hayat tidak hanya di sekolah melainkan pula di rumah. Peran orang tua sangat besar untuk memastikan para murid juga mampu memberdayakan dirinya di lingkungan rumah. 

Semoga koneksi antar materi ini semakin menguatkan langkah kita menapaki jalan bahagia menjadi Guru Penggerak nantinya, Salam dan Bahagia!!

Friday, November 5, 2021

Tuesday, November 2, 2021

Demonstrasi Kontekstual Modul 1.1 PGP Angkatan IV

 Karya : Masbahur Roziqi, Calon Guru Penggerak SMAN 1 Kraksaan Kabupaten Probolinggo 



Koneksi Antar Materi Pemikiran KHD Ala Masbahur Roziqi Modul 1.1

Awal Memaknai Merdeka Belajar 

Oleh : Masbahur Roziqi 

Calon Guru Penggerak SMAN 1 Kraksaan Kabupaten Probolinggo 

Peserta Pendidikan Guru Penggerak Angkatan IV Tahun 2021

    SALAM DAN BAHAGIA!!

    Bersyukur luar biasa. Selama dua minggu, dan sekarang menuju tiga mingu, saya berkutat dengan pemikiran KHD (Ki Hadjar Dewantara) mengenai pendidikan. Tidak hanya belajar melalui tulisan KHD dan beberapa video pendek kemdikbudristek di LMS, saya juga membaca karya KHD melalui karyanya langsung. Hasilnya, saya semakin ingin menerapkan prinsip dan asas pendidikan KHD ini dalam setiap layanan BK yang saya lakukan. Baik layanan dasar, layanan responsif, maupun dukungan sistem. Modul 1.1 membuat saya mulai awal memaknai merdeka belajar. 

    Sebelumnya jujur saya akui sebelum mempelajari modul 1.1 ini, saya merasa dominasi seorang guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dan layanan BK itu masih perlu. Sebab guru masih saya anggap sebagai instruktur yang wajib menentukan arah kegiatan tanpa harus disibukkan dengan memikirkan aspek murid. Selain itu saya juga masih bisa memaklumi jika ada bapak dan ibu guru yang melakukan justifikasi personal kepada murid. Kadang saya juga berpikir, bahwa semua apa yang dilakukan guru sesuai keinginan guru itu lah yang terbaik bagi murid. 

Namun setelah belajar mengenai asas pendidikan KHD dalam modul 1.1 ini, ternyata pemikiran saya tersebut ada yang harus direvisi, dan ada pula yang harus dikuatkan. Setelah hampir tiga minggu mempelajari modul ini, perlahan ada beberapa hal yang berubah dari diri saya. Pertama berkaitan dengan keyakinan bahwa apa pun kegiatan yang diinisiasi guru, pasti baik bagi anak. Dan guru tidak perlu berdiskusi dengan murid terkait kegiatan tersebut. Sebab semua demi kebaikan murid. 

    Hal itu tidak benar. Murid sebagai bagian dari subjek yang menjadi inspirasi dan nyawa setiap kegiatan pendidikan guru, wajib menjadi pihak yang juga berperan dalam merumuskan kegiatan pembelajaran dan layanan BK yang dilakukan. Misalnya jika sebelumnya saya tidak pernah membuat kesepakatan kelas, saat ini saya mulai meminta pendapat murid saya mengenai kesepakatan kelas. Mulai bagaimana menghargai orang lain, menepati komitmen waktu, hingga saling mengingatkan jika masing-masing pihak berjalan di luar koridor norma. 

     Kemudian yang berubah juga yakni saya yang sebelumnya tidak begitu memahami tentang asas menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam setiap layanan BK atau kegiatan pembelajaran, dengan mempelajari modul ini, saya semakin mantap mengenai asas tersebut. Bahwa setiap guru memberdayakan muridnya agar mereka semakin menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Setiap kegiatan para murid ditujukan untuk melatih murid peka kepada manusia di sekitarnya. Demikian pula dengan lingkungan yang menaunginya. Mengasah kepekaan ini baru makin kuat saya dapatkan setelah mempelajari modul 1.1 ini. 

    Setelah mempelajari ide-ide KHD tersebut saya pun yakin akan menerapkan kegiatan pendidikan yang mencerminkan pemikiran KHD seperti pendidikan nonkekerasan dan mengasah empati dan empati sosial murid. Salah satunya dengan kegiatan melatih murid bernalar kritis dan mandiri serta kreatif melaksanakan setiap kegiatan layanan BK. Tentu dengan strategi bimbingan yang berpihak pada anak. Anak sebagai episentrum setiap kegiatan yang saya lakukan. 


Saya juga tidak sabar menunggu belajar modul 1.2 untuk semakin mengetahui kegiatan pengembangan diri lainnya dari PGP ini. Modul 1.1 memantapkan dasar saya, dan modul 1.2 saya yakin membuat saya haus akan bekal-bekal pendidikan merdeka berikutnya!!

Wednesday, June 23, 2021

Resiliensi Saat Pandemi

 Pandemi covid 19 membawa dampak berkepanjangan dan multiaspek. Tidak saja pada aspek kesehatan, melainkan juga beberapa aspek lainnya. Aspek pendidikan juga terimbas oleh adanya pandemi ini. Mulai pembelajaran yang berubah menjadi pembelajaran daring, layanan BK yang akhirnya juga harus melalui daring, serta kesulitan untuk merasakan kondisi sosio emosional langsung dengan peserta didik. Tentu ini menyiksa, apalagi bagi iklim pendidikan Indonesia yang terbiasa mengedepankan interaksi sosial sebagai bagian dari sosialisasi warga sekolah. 

Namun tugas sebagai pendidik tentu juga tidak boleh berhenti karena pandemi. Justru karena pandemi ini lah maka pendidik harus lebih bekerja keras. Ya, bekerja keras. Kita dituntut untuk mencari model pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif untuk menyiasati kondisi pandemi ini. Sudah bertebaran berbagai role model pembelajaran interaktif. Tinggal bagaimana kita berusaha untuk mengadaptasinya pada lingkungan sekolah. Tentu saja sangat mencerahkan jika bapak ibu guru juga berlomba-lomba menciptakan inovasi baru dan berbagi untuk bapak ibu guru lainnya. Semoga walau pandemi ini belum dapat kita ketahui kapan berakhir, bapak ibu guru tetap selalu semangat mengawal pendidikan bagi anak-anak negeri ini. Tekad kuat kita lah yang akan membuat Indonesia berjaya saat masa depan itu kelak menyapa. Amiin. 

Sunday, May 30, 2021

Tempat kerja baru di SMAN 1 Kraksaan

 Sudah berjalan tiga bulan menjadi guru BK di SMAN 1 Kraksaan. Lingkungan kerja baru dengan anak-anak didik baru. Semangat selalu menjalankan amanah ini demi pendidikan terbaik bagi negeri. 

Tuesday, February 2, 2021

Pembelajaran Daring Sosiologi XII IPS, Rabu 3 Februari 2021

 Selamat pagi anak-anakku kelas XII IPS, alhamdulillah kembali berjumpa pada pertemuan hari ini. Oh iya sebelumnya jangan lupa mengerjakan evaluasi mandiri pada pertemuan minggu lalu pada link berikut ini yaa https://forms.gle/ejxxxBivQdkha26y5 sebagai nilai tugas untuk Bab I. Semangaat. 

Nah untuk bab II atau kegiatan pembelajaran II ini kita akan belajar bersama mengenai dampak dan upaya mengatasi ketimpangan sosial. Tujuan utamanya tentu untuk menyempitkan jurang ketimpangan sosial yang terjadi. Agar dapat pula meminimalisir atau mengurangi dampak negatif dari ketimpangan sosial tersebut. Lebih spesifiknya, tujuan kegiatan pembelajaran 2 ini adalah kalian mampu mendeskripsikan hasil pengamatan dan diskusi tentang dampak dan upaya mengatasi ketimpangan sosial dalam masyarakat. 

Dampak ketimpangan sosial ada berbagai macam yang dapat terjadi di masyarakat, bahkan juga di lingkungan kalian looh. Apa saja sih bentuknya, lihat penjelasan di bawah ini ya: 

Dampak Ketimpangan Sosial dalam Masyarakat
Ketimpangan yang terjadi di masyarakat memiliki dampak positif dan dampak negatif. Adapun dampak positif ketimpangan sosial bagi kehidupan masyarakat sebagai berikut:

a. Ketimpangan sosial dapat menjadi stimulasi ampuh bagi beberapa wilayah
untuk terus memaksimalkan potensi mereka demi menuju ke arah yang
senantiasa lebih baik lagi.
b. Ketimpangan sosial juga dapat menumbuhkan rasa empati antargolongan
untuk membantu yang lain demi mendapatkan kesetaraan yang sudah
semestinya
c. Ketimpangan sosial meminimalisir mental individu yang biasanya gampang
cepat puas dengan ini mereka akan terus didorong untuk mengkontribusikan
yang lebih baik dari diri mereka masing-masing.
d. Mengajarkan pada masyarakat mengenai arti tentang kehidupan yang beragam
e. Mendorong manusia untuk lebih pandai bersyukur atas apa yang dipunyai.

Sedangkan dampak negatif ketimpangan sosial adalah :
a. Melemahnya minat untuk berwirausaha/berwiraswasta.
Beberapa ahli mengatakan bahwa globalisasi adalah sebuah strategi jitu bagi kepentingan perusahaan multinasional, seperti pajak yang lebih rendah dan peraturan yang longgar. Dengan demikian, banyak perusahaan asing 
(memiliki modal yang besar) menanamkan modalnya di Indonesia. Hal tersebut secara perlahan dapat menyisihkan pengusaha kecil lokal yang tidak mampu bersaing baik dari segi modal maupun teknologi. Pada selanjutnya masyarakat mengalami ketimpangan sosial. Ketimpangan sosial menghambat minat masyarakat untuk berwirausaha, khususnya masyarakat yang memiliki modal kecil.

b. Diskriminasi sosial.
Pengertian diskriminasi adalah suatu sikap, perilaku, dan tindakan yang tidak adil atau tidak seimbang yang dilakukan oleh individu atau kelompok terhadap individu atau kelompok lainnya. Ada juga yang menyebutkan arti diskriminasi adalah suatu tindakan atau perlakuan yang mencerminkan ketidakadilan terhadap individu atau kelompok tertentu yang disebabkan oleh adanya karakteristik khusus yang dimiliki oleh individu atau kelompok tersebut.

Perlakukan secara tidak adil dapat terjadi dimana dan kapan saja karena adanya perbedaan karakteristik berikut ini:
1) Perbedaan suku dan ras, Contoh diskriminasi ras; menutup peluang kerja suatu jenis pekerjaan bagi ras tertentu sehingga tidak ada kesetaraan pada jenis pekerjaan tersebut.

2) Perbedaan kelas sosial, Contoh diskriminasi sosial; pelayanan berbeda atas fasilitas umum (misalnya fasilitas kesehatan) terhadap masyarakat yang kaya dan masyarakat yang kurang mampu

3) Perbedaan jenis kelamin (gender) Contoh diskriminasi gender; menetapkan gaji yang lebih rendah kepada tenaga kerja wanita dibanding pria meskipun tugas dan tanggungjawabnya sama.

4) Perbedaan agama/kepercayaan, Contoh diskriminasi agama; mempersulit atau menghambat proses kegiatan keagamaan lain di suatu daerah dengan alasan mayoritas penduduk di daerah tersebut adalah agama yang berbeda

5) Perbedaan pandangan politik

6) Perbedaan kondisi fisik dan lain-lain
Seorang ahli sosiologi bernama Pettigrew (dalam Liliweri 2005) menyebutkan ada dua tipe diskriminasi yang dapat terjadi di masyarakat. Adapun jenis dan tipe diskriminasi adalah sebagai berikut:

1) Diskriminasi Langsung adalah suatu bentuk diskriminasi dimana hukum, peraturan, atau kebijakan dibuat dengan menyebutkan secara jelas karakteristik tertentu. Misalnya agama, ras, jenis kelamin, kondisi fisik, sehingga sebagian orang tidak mendapatkan peluang yang sama.

2) Diskriminasi Tidak Langsung. Tipe diskriminasi ini terjadi ketika suatu peraturan yang sifatnya netral namun dalam pelaksanaannya di lapangan terjadi diskriminasi terhadap masyarakat yang memiliki karakteritik tertentu


c. Kecemburuan sosial
Kecemburuan sosial dapat diartikan suatu kondisi munculnya perasaan atau sikap yang kurang senang dari suatu kelas sosial karena adanya perbedaanperbedaan dalam kehidupan bermasyarakat.


d. Konflik Sosial

Konflik sosial adalah suatu proses sosial yang terjadi antara dua pihak atau lebih, dimana salah satu pihak berupaya untuk menyingkirkan pihak lainnya dengan cara menghancurkan atau membuatnya tak berdaya. Pada umumnya, konflik terjadi karena adanya perbedaan (pendapat, ideologi, budaya, dan lainnya) di masyarakat yang kemudian menimbulkan masalah dan belum ditemukan kesepakatan dalam menyelesaikan masalah tersebut.

e. Kriminalitas
Masyarakat miskin karena ketimpangan sosial harus berusaha keras memenuuhi kebutuhan hidupnya di era globalisasi ini. Beberapa dari mereka terpaksa menghalalkan segala cara agar dapat memenuhi hidupnya, yaitu dengan melakukan berbagai macam tindakan kriminal seperti mencuri, merampok, berjudi, penodongan,dan tindakan kriminal lainnya.

f. Terjadinya monopoli

Ketimpangan sosial menyebabkan seseorang yang kaya menjadi kaya dan seseorang yang miskin menjadi semakin miskin. Hal tersebut disebabkan, seseorang yang mempunyai kekuatan baik dari segi ekonomi, hukum, politik dan bidang lainnya akan berupaya untuk bisa lebih menguasai bidang
masing-masing dengan cara melebarkan sayap kekuasaan mereka. Hal tersebut membuat rakyat miskin semakin tertindas karena mereka tidak mempunyai kemampuan untuk melawannya. Misalnya, maraknya pembangunan mall-mall di kota-kota besar atau pembangunan swalayan di kota-kota kecil sedikit demi sedikit akan mematikan pedagang di pasar tradisional.

Untuk hari ini sekian dulu yaa materi yang qta pelajari bersama, minggu depan, qta akan membahas mengenai upaya mengatasi ketimpangan sosial. Yuk isi daftar hadir dulu https://forms.gle/MZxqdVuyRVKRbLSA8

Monday, February 1, 2021

Pembelajaran Daring Sosiologi XI IPS, Selasa 2 Februari 2021

 PENILAIAN DIRI 

Selamat pagi anak-anakku kelas XI IPS, sebelum melanjutkan ke bab berikutnya, saya ingin mengetahui nih penilaian diri kalian tentang pemahaman terhadap beberapa materi sosiologi pertemuan-pertemuan sebelumnya pada bulan Januari 2021. Silakan mengisikan penilaian diri hari ini dan jangan lupa mengerjakan evaluasi petemuan minggu kemarin yaa pada tanggal 26 Januari 2021 SIlakan mengisi pada link berikut https://forms.gle/9ua9CfxU6ix4V9FD8

Sunday, January 31, 2021

Layanan BK Daring XI IPA, Senin 1 Febuari 2021

 Selamat pagi anak-anakku kelas XI IPA, bagaimana kabarnya hari ini? Semangat selalu yaa walau masih pandemi. Semoga seluruh keluarga dalam keadaan sehat wal afiat dan mendapat nikmat barokah dari Allah, amiin. Kemarin kita kan telah membahas mengenai konsep asesmen nasional, nah hari ini kita akan membahas kelanjutannya. Mengapa sih harus kelas XI yang mengerjakan asesmen nasional? Apakah asesmen nasional menggantikan UN? dan apa saja sih yang akan dikerjakan oleh murid dalam asesmen nasional ini? Yuk kita bahas satu-satu di bawah ini. 

Pertama saya akan mengajak kalian untuk menelusuri mengapa sih harus kelas XI yang mengikuti asesmen nasional ini? Bukan kah ada kelas X dan ada kelas XII? 

Jawabannya adalah karena kelas XI telah melaksanakan proses pembelajaran selama satu setengah tahun pelajaran. Sehingga sudah dapat mengetahui dan merasakan proses pembelajaran di sekolah. Dan masih ada satu setengah tahun pelajaran lagi yang harus dilalui sebelum kelulusan. Sehingga asesmen nasional yang kalian kerjakan nantinya dapat mengetahui dampak pembelajaran selama satu setengah tahun pelajaran kemarin dan hari ini. Serta hasil asesmen nasional ini nantinya dapat digunakan untuk memberikan perbaikan pembelajaran sesuai rekomendasi hasil asesmen nasional tersebut. Sehingga nantinya siswa kelas XI ketika naik ke kelas XII mendapatkan pembelajaran sesuai dengan hasil asesmen nasional. 

Berikutnya apakah asesemen nasional ini nantinya menggantikan UN untuk kelas XI saat nantinya naik ke kelas XII pak? Jawabannya tidak. Terkait penilaian, UN digantikan oleh Ujian Sekolah yang diselenggarakan sekolah, yang artinya kelulusan kalian tergantung atas keputusan dewan guru di sekolah. Ada pun asesmen nasional lebih mengukur pada kemampuan minimal kalian yakni kemampuan literasi dan numerasi, survei karakter, dan survei lingkungan belajar. Jadi tidak mengganti UN sebagai nilai. 

Lalu apa saja sih pak yang akan dikerjakan oleh anak-anak kelas XI? Ada tiga kegiatan yang akan kalian kerjakan atau lakukan. Pertama adalah mengerjakan Asesmen Kompetensi Minimal (AKM), yaitu kemampuan literasi dan kemampuan numerasi. Kedua, kalian akan mengerjakan survei karakter. APa itu, yakni pengukuran atas nilai-nilai profil pelajar pancasila yang selama ini telah kalian alami dan atau terapkan di sekolah. Yakni nilai-nilai kemandirian, benalarr kritis, beriman dan takwa kepada Tuhan YME-berakhlak mulia, berkebhinekaan global, gotong royong, dan kreatif. Ketiga, kalian akan mengerjakan survei lingkungan belajar. Yakni untuk mengukur dan mengetahui sejauh mana lingkungan belajar di sekolah yang telah kalian jalani selama ini. Baik saat pembelajaran sebelum corona maupun saat corona datang. 

Nah itu lah beberapa informasi mengenai asesmen nasional, nah untuk AKM yang akan kalian hadapi itu nanti bagaimana? kita bahas minggu depan yaa. Semangaat. Jangan lupa isi daftar hadir di link berikut https://forms.gle/ZommJKQkzWdJDDGs6

Thursday, January 28, 2021

Layanan BK Daring XII IPS, Jum'at 29 Januari 2021

Selamat siang anak-anakku kelas XII, bertemu kembali pada kesempatan yang insya Allah penuh barokah hari ini. Saya berharap semoga anak-anakku sekalian beserta keluarga di rumah mendapatkan kesehatan, kelancaran rezeki, dan semangat untuk terus melalui tantangan kehidupan tiap harinya. Yakin lah Tuhan selalu bersama kita dalam tiap langkah kehidupan kita. 

Sejenak mari kita refleksi pertemuan minggu lalu yaa. Minggu lalu ada yang masih ingat kita membahas apa? Hayoo, diingat ingat apa yaa??

Yups benar sekali, atau ada yang masih lupa? HEhehe tidak apa-apa, pak Ziqi akan segarkan lagi ingatan anak-anakku sekalian yaa. Minggu lalu kita sudah bersama membahas dan berdiskusi via online mengenai apa sih hal yang penting bagimu, apa motivasi kalian dalam karier. 

Sebagian besar mengatakan motivasi terbesar adalah keluarga, dan bagaimana bisa mewujudkan tujuan pribadi. Ada juga yang mengatakan motivasi dalam meraih karier adalah untuk turut membantu orang lain. Keren-keren semua motivasinya. Tiap kalian memiliki hal yang penting dan motivasi tersendiri untuk meraih karier sesuai yang kalian usahakan. Nah setelah mengetahui motivasi kalian, sekarang kalian ngapain nih untuk bisa mengeksplorasi lagi tentang proses karier kalian? Yuk simak di bawah ini

Selama bersekolah, tentu ada kompetensi-kompetensi dalam tiap pelajaran yang kalian pelajari dan kuasai. Tujuannya agar kompetensi itu mampu membantu kalian memahami dunia dengan lebih baik dan penuh pengetahuan. Tiap pelajaran memiliki karakteristiknya sendiri. Seperti sejarah, membantu kalian untuk belajar dari masa lampau untuk perbaikan hidup pada masa kini. Matematika, membantu kalian untuk berpikir sistematis, logis, dan terarah sehingga dalam mengambil keputusan tidak gegabah dan sembarangan. Termasuk juga pelajaran lainnya yang memiliki karakteristik sendiri-sendiri. 

Nah tentu kalian juga berjuang untuk bisa meraih kompetensi-kompetensi itu. Tentu tidak berlebihan jika kita katakan tidak semua kompetensi mapel bisa kita kuasai dengan sempurna. Pasti ada saja mapel yang membutuhkan tantangan lebih  untuk menguasainya.  Pada kegiatan hari ini, anda akan menilai kemampuan/kompetensi akademis apa sih yang kuat dan lemah sesuai dengan keadaan diri anda. Misalnya pak ziqi kuat di pelajaran sejarah, tapi lemah di pelajaran fisika, seperti itu lah kegiatan yang akan kalian lakukan. 

Lebih lengkapnya, yuk ikuti kegiatan tersebut pada link ini yaa https://forms.gle/UfkuDFHsFx3UR3vy9


Cegah Kriminalisasi Melalui Dewan Etik Guru

  Oleh : Masbahur Roziqi Penulis adalah guru bimbingan dan konseling SMAN 1 Kraksaan Kabupaten Probolinggo Profesi guru ternyata masih r...