Monday, May 30, 2022

KAM 3.2.a.9- Pengelolaan Sumber Daya

   Oleh : Masbahur Roziqi (CGP Angkatan IV Pendidikan Guru Penggerak)
 Pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya. Keren sekali. Saya sangat menikmatinya. Belajar mengenai kepemimpinan pembelajaran. Belajar pula tentang pengelolaan sumber daya. Keduanya saling terkait. Tidak terpisahkan. Bagian integral satu dengan lainnya. Ketika menguasai kepemimpinan maka untuk selanjutnya harus menguasai pengelolaan sumber daya. Dan tentu ujungnya nanti untuk membuat program yang berdampak bagi murid. 
    Ketika menjadi pemimpin pembelajaran, kita belajar banyak hal mengenai paradigma pengambilan keputusan. Bahwa pengambilan keputusan itu bukan hanya mengenai bagaimana memutuskan sesuatu an sich. Melainkan ada beberapa paradigma yang wajib seorang individu perhatikan. Seperti paradigma mengenai bujukan moral dan dilema etik. Agar tidak terjebak pada keputusan yang lebih banyak blunder bagi pelaksanaan program itu sendiri. 
    Nah kepemimpinan pembelajaran itu menurut saya juga berkelindan dengan pengelolaan sumber daya. Ketika kita mampu mengambil keputusan berdasarkan menghindari bujukan moral dan mengelola dilema etika untuk kepentingan terbaik bagi anak, maka selanjutnya menganalisis sumber daya. Kelola kekuatan atau sumber daya yang ada. Sebaiknya menghindari fokus pada kelemahan. Namun merujuk pada apa saja sih kekuatan yang bisa kita maksimalkan. Sehingga kelemahan yang ada dapat tertutupi oleh pemberdayaan sumber daya atau kekuatan sekitar kita. 
    Saya berupaya mengimplementasikannya dengan contoh ketika saya mengajak anak-anak membuat kesepakatan kelas. Dalam penyusunan kesepakatan kelas itu saya mendorong anak untuk mengeluarkan gagasannya, mengkritisi usulan kesepakatan teman, hingga bahkan mengusulkan usulan baru. Tentu ini menjadi bagian dari pengambilan keputusan dari dilema etika. Kemudian terkait pengelolaan sumber dayanya, ini dapat dikaitkan dengan saya memperhatikan berbagai aspek. Diantaranya aspek SDM, yaitu anak-anak SMAN 1 Kraksaan terbuka dan kritis dalam menyikapi suatu topik. Ada pula mengenai budaya, yakni budaya saling menghormati dan menghargai atas pendapat teman lain. Kesemuanya saya ramu dalam topik pembuatan kesepakatan kelas tersebut. 
    Tentunya dengan penerapan pengelolaan sumber daya itu, penciptaan iklim pembelajaran berkualitas akan lebih mungkin terlaksana. Ini karena setiap aspek kekuatan atau sumber daya diperhatikan dan dimaksimalkan. Sehingga pembelajaran yang terjadi berbasis pada pemanfaatan kekuatan atau sumber daya yang sekolah miliki. Contohnya di SMAN 1 Kraksaan kita memiliki sumber daya manusia berupa dominannya guru yang telah memiliki sertifikat pendidik dan berbagai prestasi tingkat nasional dan daerah. Kemudian beliau-beliau juga memiliki dedikasi mendidik murid seperti anak sendiri. Hal itu ketika mampu kita kelola sebagai bagian dari sumber daya dan dirawat dengan maksimal, tentu akan menghadirkan pembelajaran yang berpihak pada anak. Demikian pula dengan adanya sumber daya finansial yang cukup besar mampu mendukung pemenuhan sarana pendukung belajar bagi anak di sekolah. 
    Jika ada yang bertanya apa modul pengelolaan sumber daya ini berkaitan dengan materi sebelumnya? Saya pastikan menjawab iya. Semua materi dalam modul satu dan dua juga berkaitan dengan materi pengelolaan sumber daya. Pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran sosial emosional, dan coaching misalnya merupakan bagian dari keterampilan pra pengelolaan yang harus dimiliki sebelum mengelola sumber daya. Dengan menerapkan pembelajaran yang berpihak pada anak, kita akan lebih banyak peka dan mendengar. Bahkan kita bisa melatih diri untuk memiliki sensitivitas pedagogis. Sebuah kepekaan pada diri kita dalam menerapkan ilmu pedagogik dalam kehidupan profesional sebagai guru. Demikian pula dengan modul 1. Pemahaman mengenai hakikat pemikiran KHD merupakan basis bagi seorang pengelola sumber daya. Bahwa pemikiran KHD yang merupakan soko guru pendidikan nasional kita harus terpatri dan kita hayati lebih dulu dalam kegiatan analisis sumber daya yang sekolah miliki. 
Ada pun bagaimana dengan pemikiran anda sebelum dan setelah mengikuti pelatihan terkait modul ini? Perubahan itu ada. Saya mulai mengetahui apa itu aset yang harus dimaksimalkan. Dan bagaimana sebagai calon guru penggerak mampu memaksimalkan aset yang ada untuk menciptakan sebuah program yang berdampak pada murid. Hubungannya sangat erat. Ketika sebelumnya saya hanya berpikir program itu hanya dibuat oleh manajemen sekolah dan berbasis deficit based thinking, ternyata keliru. Harusnya asset based thinking. Ini yang saya peroleh. 

Thursday, April 21, 2022

KAM MODUL 3.1-Kesimpulan

     Makin mendekati akhir nih. Saya sudah mencapai modul 3.1. Temanya tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Sekarang coba saya kaitkan dengan filosofi pratap triloka. Prinsip ini tentu bisa menjadi sebuah landasan seorang pemimpin pembelajaran mengambil keputusan. Artinya sebagai pemimpin menjadi teladan dan keputusan yang diambil berdasarkan kebijaksanaan. Hasil pergumulannya menjadi teladan bersama para pihak yang terlibat dalam ekosistem sekolah. 

    Tentu dalam pengambilan keputusan itu pula akan dipengaruhi oleh nilai-nilai yang saya anut dan tertanam dalam diri saya. Prinsip yang saya ambil tentu juga akan mengacu pada nilai yang berada pada diri saya. Misal nilai yang tertanam adalah nilai kejujuran, tanggung jawab, bekerja keras, tentu pengambilan keputusan akan mendasarkan pada nilai tersebut. 

    Kegiatan terbimbing yang saya lakukan pada proses coaching dengan fasilitator dan pengajar praktik berjalan sangat lancar. Dengan fasilitator, saya mendapat coaching berkaitand dengan pengujian dan penguatan atas pengambilan keputusan yang telah saya ambil. Pembeda dengan pendamping, fasilitator banyak berkomunikasi melalui daring. Sedangkan dengan pendamping, saya banyak bertemu darat, atau offline, dan sesekali juga melalui daring. Problem dilema etika dalam pengambilan keputusan mendapat verifikasi dan validasi melaui pengujian sembilan langkah. Dan ini lah yang bersama saya lakukan dengan fasil dan pendamping pada proses coaching guna pengambilan keputusan. 

    Aspek sosial emosional dalam kaitannya dengan pengambilan keputusan tentu tidak bisa saya lepaskan begitu saja. Aspek ini berperan penting dalam memastikan pengambilan keputusan kita. Seperti aspek keterampilan relasi dan empati. Kemampuan guru untuk mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan membawa pengambilan keputusan ke arah lebih matang. 

    Hal ini juga beralku berkaitan dengan pembahasan studi kasus yang berkaitan dengan moral dan etika. Ini tentunya kembali akan berpengaruh dengan nilai dan kondisi pengelolaan sosial emosional sang guru/pendidik. Dengan memerhatikan hal tersebut pengambilan keputusan yang tepat dan matang berpotensi sangat berpengaruh positif pada pembentukan lingkungan yang kondusif, aman, dan nyaman. Apalagi ini kaitannya dengan menumbuhkan ekosistem pembelajaran yang menjadi taman bagi anak. 

    Selanjutnya tentu selain hal positif dan kelebihan yang saya rasakan, tentu ada pula kesulitan yang saya hadapi berkaitan dengan pengambilan keputusan. Kesulitannya tentu ketika menghadapi dilema untuk kasihan kepada teman atau orang yang memiliki kedekatan dengan saya. Sehiingga keputusan yang saya ambil lebih berpotensi bias dan berpihak sesuai kepentingan saya. Sehingga perlahan memang harus terus saya latih untuk lebih berpatokan pada sembilan uji. Dan latihan ini tentu juga untuk melakukan perubahan paradigma pengambilan keputusan di lingkungan saya. 

    Demikian pula kegiatan pembelajaran yang memerdekakan murid akan erat berhubungan dengan pengambilan keputusan yang positif dan berpihak pada anak. Ketika keputusan itu berujung pada prinsip berpihak pada anak, maka pengajaran memerdekakan murid itu akan masuk di dalamnya. 

    Akhirnya memang pengambilan keputusan seorang pemimpin pembelajaran dalam ekosistem sekolah memang mempengaruhi kehidupan dan masa depan murid. Semakin pengambilan keputusan sesuai dengan keberpihakan pada murid, kenyamanan dan keamanan murid, maka mereka akan mampu fokus dan menikmati perjuangan menggapai masa depannya. Demikian pula sebaliknya. Maka yang akan murid dapat adalah kondisi sekolah yang tidak mendukung pengembangan potensi murid. 

    Modul ini tentu berkaitan dengan modul sebelumnya. Modul ini merupakan muara awal yang dilandasi oleh modul sebelumnya. Modul 1 berfokus pada penguatan diri, dan modul dua berkaitan dengan interaksi dengan orang lain, dan modul ini berfokus bagaimana seorang CGP dapat melatih diri mengelola kepemimpinan dalam ekosistem sekolah. Ketiganya berkelindan untuk mewujudkan CGP yang paket komplit. Memimpin sekolah berdasarkan poteni memaksimalkan kepemimpinan pembelajaran yang selalu CGP proses lakukan. 

Saturday, April 16, 2022

Ambil Keputusan, Perlu Langkah Andalan

Oleh : Masbahur Roziqi

Calon Guru Penggerak  SMAN 1 Kraksaan Angkatan IV Kabupaten Probolinggo

     Waktu terus begeser mengantarkan saya menuju ke penghujung modul yang harus saya pelajari dari guru penggerak. Kali ini saya sampai pada modul 3.1. Apa yang terjadi? Saya kembali menggelengkan kepada dan mengernyitkan dahi. Ini materi apaan ya? Hmm, baru lagi nih. Itu lah gumaman yang saya dengarkan dari relung pikiran saya. Gumaman itu terlintas beserta pikiran penasaran ketika saya saya membaca eksplorasi konsep modul 3.1 ini. Ada beberapa konsep yang jujur belum pernah saya dengar sebelumnya. Apa saja itu?

    Ada empat paradigma, tiga prinsip pengambilan keputusan, dan sembilan langkah uji pengambilan keputusan. Ada pula dilema etika dan bujukan moral. Ketiksa saya lihat video-videonya dan kalimat pada materinya, wow saya pernah mengalami ini. Namun namanya saya tidak tahu. Terjawab sudah penasaran saya. Namanya itu dilema etika dan bujukan moral. Satu ilmu baru lagi buat saya. Terus bersumber nih ilmu di modul guru penggerak ini. 

    Bermunculan lah berbagai kegiatan lanjutan, mulai dari ruang kolaborasi hingga terakhir saya bersama kelompok melakukan penyajian hasil diskusi kami pada ruang kolaborasi. Serunya kami membahas bersama tentang demo PGRI yang membela guru dimutasi, sangat dilema etik, dan diskusinya berlangsung seru plus menyenangkan. 

        Setelah mengikuti kegiatan pengenalan dan pemahaman awal tentang pengambilan keputusan ini, saya tentunya pasti entah kapan akan mengalami atau berhadapan berkaitan dengan dilema etika. Pertanyaannya, bagaimana rencana saya ketika hal itu terjadi? Tentu ke depan saya akan menerapkan apa yang saya alami dari pengalaman mempelajari modul 3.1. Dengan menerapkan konsep-konsep mulai dari mengenal paradigma pengambilan keputusan hingga sembilan uji, pengambilan keputusan yang saya lakukan akan lebih komprehensif. 

    Ada pun mengenai efektivitas pengambilan keputusan dapat saya ukur dengan mengetahui dampak dari pengambilan keputusan tersebut. Semakin keputusan itu lebih banyak mendatangkan manfaat, maka langkah pra pengambilan keputusan tersebut sudah tepat. Proses itu juga melibatkan pihak-pihak yang menurut saya dapat membantu untuk mereview keputusan yang akan saya buat. Sehingga ada umpan balik yang saya dapatkan untuk makin menguatkan kualitas keputusan yang akan saya ambil. 

    Penerapan pengambilan keputusan ini tentunya akan saya terapkan dalam kegiatan sehari-hari saya sebagai guru dan rekan sejawat. Ada banyak dinamika yang tentunya akan terjadi pada setiap aktivitas profesional. Pada murid, saya tentu akan banyak bersinggungan kaitannya dengan layanan bimbingan dan konseling. Entah itu layanan dasar yang sudah rutin saya lakukan (bimbingan klasikal dan bimbingan kelompok) atau layanan responsif berupa konseling individu, konseling kelompok. Dari gesekan dinamika itu tentu kemungkinan akan muncul dilema etika. Tentu dengan bekal melakukan uji pengambilan keputusan hingga memikirkan paradigma dan prinsip tersebut akan membuat saya lebih menikmati pengambilan keputusan dengan sistematis dan rasional. 

    Demikian juga dengan rekan sejawat. Tak jarang kita akan berhadapan dengan teman sejawat yang menyampaikan beberapa hal. Entah berkaitan dengan tugas guru atau kondisi jenjang kariernya. Bahkan kaitannya dengan pembenahan data guru di dapodik. Tentu dengan memastikan melaksanakan pencermatan pengambilan keputusan, maka kondisi deadlock dan burnout dapat saya minimalisir terjadi.

    Kalau ada yang menanyakan kapan anda akan melakukannya? Saya akan melakukannya mulai sekarang. Minimal lah kalau ingin melihat perkembangan, saya akan coba satu bulan ini melaksanakan pengambilan keputusan dalam kondisi dilema etika. Tentu harapannya apa yang telah saya pelajari dari modul 3.1 ini dapat membantu saya mengambil keputusan dengan lebih komprehensif dan manusiawi. 

Monday, March 28, 2022

KONEKSI MATERI 2.3-COACHING MANTAP BERSAMA MURID DAN TEMAN SEJAWAT!

 Tiba saatnya saya kembali berbagi koneksi antar materi pada penghujung modul dua. Tepatnya modul 2.3 yang menurut saya sangat membahagiakan. Apalagi materinya mengena sekali, coaching. Hmm, baru sih kalau saya tahunya. Setahu saya bahasa coaching itu lebih kepada hal-hal berbau kepelatihan sepak bola. Eh ternyata ada pada materi modul guru penggerak. Coaching dalam dunia pendidikan persekolahan, hmm menarik juga. 

    Benar dugaan saya, setelah saya mengikuti materi coaching ini, kereeen. Sesuai dengan yang KHD sampaikan bahwa kita membersamai anak sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya. Termasuk pula kita melatih empati kita untuk bersama teman sejawat melaksanakan tugas dengan lancar. Dengan praktik coaching ini membuat saya dan bapak ibu guru lainnya memiliki keterampilan untuk mendampingi murid dan sesama sejawat mengatasi problematika atau tantangan yang sedang mereka hadapi. 

    Dengan menguasai keterampilan coaching, saya mampu mengajak anak untuk menggali potensi dirinya. Setelah potensi tergali, maka berupaya untuk mendapatkan kekuatan dirinya menyelesaikan apa yang sedang dia alami saat ini. Coach terus memaksimalkan kemampuan bertanya dan menparafrase apa yang coachee sampaikan untuk menjadi bagian dari penyelesaian atau langkah awal penyelesaikan tantangan atau masalah yang sedang coachee hadapi. 

    Ada pun hubungan antara pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran sosial emosional dengan praktik coaching ini tentu sangat erat. Ketiganya baagaikan satu tubuh. Saling menjiawai. Pembelajaran berdiferensiasi membutuhkan warna kompetensi sosial emosional untuk berkembang. Keduanya terwujud dalam praktik coaching ketika memberdayakan murid yang sedang mengalami hambatan. Sehingga prinsip no one left behind (sesuai moto SDG's) tetap terjaga. 

    Akhirnya modul 2 ini saya akui benar-benar sangat jozz. Saya mendapatkan banyak insight untuk terus berjuang menjadi lebih baik dalam memberdayakan anak didik. Termasuk bagaimana merancang sebuah kegiatan layanan BK atau pembelajaran berdasarkan karakter dan potensi anak. Salam guru penggerak!!

Tuesday, March 15, 2022

Koneksi Materi 2.2

KSE dan Diferensiasi, Siapa Takut?
    Saya membuka tulisan ini dengan dua topik yang saya pelajari pada modul 2.1 dan 2.2. Pertanyaan yang say ajukan pada khalayak netizen, siapa takut? Ini memiliki makna bahwa kompetensi sosial emosional dan diferensiasi itu erat sekali kaitannya. Saling melengkapi dan mengisi. Berkait satu sama lain. Percaya apa tidak? Anda tidak percaya? Mari kita diskusikan pada tulisan ini. 
Pada modul 2.1 saya banyak belajar mengenai diferensiasi. Apa itu diferensiasi hingga bagaimana sih pembelajaran berdiferensiasi itu seharusnya terjadi. Dari pembelajaran diferensiasi saya mengetahui mengenai pentingnya guru mengetahui profil belajar murid. Terutama saat akan mengajak murid untuk berproses belajar bersama dan mengalami pengalaman belajar bersama. 
    Dari diferensiasi, bisa guru ketahui tentang minat murid, gaya belajarnya, hingga kesiapan belajar murid. Sehingga guru tidak tiba-tiba melakukan penyamarataan pada murid. Melainkan bisa melakukan kelola kelas dan anak sesuai profil belajar mereka masing-masing. 
Lantas apa hubungannya dengan KSE?? Bukannya keduanya modul yang terpisah? Tentu saja ada kaitannya. Salah satu kaitannya yakni guru harus memiliki keterampilan relasi, kesadaran sosial, dan individu kaitannya dengan pembelajaran berdiferensiasi. Menyadari bahwa guru dan murid merupakan makhluk sosial yang senantiasa saling membutuhkan. Sehingga perlu saling memahami, terutama dengan bekal data diferensiasi yang guru telah kantongi terlebih dahulu sebelum melakukan pembelajaran. Tentu dengan kesadaran sosial, guru akan lebih berusaha memahami murid dibanding kesadaran sosial itu tidak tumbuh. 
    Demikian pula dengan keterampilan relasi, dengan memetakan profil belajar murid, maka guru akan mampu lebih menerapkan keterampilan relasinya dengan lebih baik. Murid akan terfasilitasi keunikannya dengan guru mampu menghargai keunikannya tersebut melalui keterampilan berelasi sang guru. 
    Dari beberapa hal tersebut, kaitan KSE dan diferensiasi sangat kentara terlihat. Makin humanis guru, menghargai keunikan, dan mengelola perbedaan yang ada pada murid, akan membuat pembelajaran berdiferensiasi semakin niscaya akan terjadi. Semoga berikutnya dan seterusnya, pembelajaran berdiferensiasi berbasis kompetensi sosial emosional makin menjadi trend pendidikan mengasyikkan berikutnya bagi murid. 

Wednesday, February 23, 2022

Koneksi Antar Materi 2.1

 Berdiferensiasi, Siapa Takut!!

Oleh : Masbahur Roziqi 

Calon Guru Penggerak SMAN 1 Kraksaan Kabupaten Probolinggo

    Pembelajaran berdiferensiasi. Hmm, baru lagi nih. Lagi-lagi PGP sukses membuat saya penasaran. Itu lah awal perasaan yang muncul pada diri saya ketika membaca awal mengenai pembelajaran berdiferensiasi. Saya pun berulang kali membaca materi mengenai pembelajaran berdiferensiasi ini. Termasuk melihat beberapa video yang telah LMS tayangkan. Ternyata menarik. Karena menjabarkan bahwa perbedaan individu itu niscaya. Termasuk perbedaan para murid. Penyamarataan berarti mengingkari fitrah perbedaan murid itu. 


    Lantas pembelajaran berdiferensiasi ini hadir. Menjadi sebuah upaya menjembatani perbedaan murid itu ke dalam pembelajaran. Tidak lagi hanya pada satu-satunya opsi yaitu pembelajaran sama untuk semua. Melainkan ada diferensiasi atas fenomena adanya perbedaan karakteristik murid. 

    Kesimpulan saya mengenai pembelajaran berdiferensiasi ini sederhana sih. Ini pembelajaran yang menawarkan adanya akomodasi cara menampung perbedaan yang ada pada murid. Perbedaan pada apa saja kah? Dapat dilihat pada tiga hal. Kesiapan belajar, minat, dan profil belajar murid. Ini lah konsep inti dari pembelajaran berdiferensiasi. Termasuk juga jenisnya, ada jenis diferensiasi konten, proses, dan produk. Ini sebagai bagian dari ikhtiar menjembatani perbedaan tiap murid. 

    Tentu saja pembelajaran berdiferensiasi ini membantu murid untuk bisa terfasilitasi perbedaannya. Seperti misal ketika guru telah mengetahui mengenai gaya belajar tiap murid, maka pembelajaran dapat beliau rancang menyesuaikan dengan gaya belajar itu. Bisa pada diferensiasi konten, proses, maupun produk. Sehingga murid belajar sesuai dengan karakteristik gaya belajar dominannya. Tentu akan berdampak. Yakni murid belajar dengan enjoy karena sesuai dengan gaya belajar yang dia nyaman melakukannya. Mulai dari konten yang guru sajikan, dia menikmati, kemudian saat proses pun dia mendapat kesempatan untuk belajar sesuai gayanya, dan terakhir, dia mendapat kesempatan memproduksi karyanya sesuai gaya belajarnya. Tentu sangat indah. 

    Ada pun kaitan pembelajaran berdiferensiasi ini tentu sangat berkaitan. Dengan budaya positif sangat sinkron. Dalam pembelajaran berdiferensiasi ini, guru memiliki posisi kontrol manajer. Guru mampu untuk memberdayakan murid sesuai dengan karakteristiknya mengikuti pembelajaran secara maksimal. Selain itu tentu saja pembelajaran berdiferensiasi menjadi bagian upaya menumbuhkan kepemimpinan murid. Murid berpacu menjadi inisiator atas kegiatan belajarnya sendiri yang telah sesuai dengan gaya belajarnya. Dengan lebih enjoy, dia mendapatkan upaya maksimal itu mengantarkannya memperoleh pengalaman belajar menyenangkan. 

Wednesday, February 9, 2022

Berbagi Aksi Nyata Modul 1-Keyakinan Kelas Mantap Jiwa!

Oleh : Masbahur Roziqi

Calon Guru Penggerak SMAN 1 Kraksaan Kabupaten Probolinggo Angkatan IV  

Akhirnya tiba juga saatnya berbagi. Kali ini saya akan berbagi aksi nyata saya pada modul satu. Kegiatan aksi nyata awal saya yang sangat berkesan. Mengapa berkesan? Karena ini hal baru yang saya alami. Dan tentu saja hal baru ini saya laksanakan dengan antusias. Yuk saya akan bercerita. 

    Kegiatan aksi nyata ini merupakan bagian memperkenalkan dan mengaplikasikan konsep budaya positif di sekolah. Konsep itu antara lain perubahan paradigma, mengenal disiplin positif dan teori motivasi perilaku, mengenal keyakinan kelas, mengenal pemenuhan kebutuhan dasar individu, mengenal posisi kontrol guru,  dan terakhir yakni mengenalkan segitiga restitusi. Keenam konsep budaya positif itu menjadi konsen saya dalam melaksanakan kegiatan aksi nyata di sekolah dan saat mendiseminasikannya pada bapak ibu guru di SMAN 1 Kraksaan. 

Budaya positif ini sungguh ideal jika bisa konsisten kita terapkan di sekolah. Dengan mengenal posisi kontrol dan pemenuhan kebutuhan dasar individu misalnya. Guru bisa lebih mengerti posisi murid. Termasuk dapat pula menentukan posisi kontrol guru. Mau jadi penghukum apa mau jadi manager. Atau bahkan lebih memilih menjadi teman atau pemantau? Ini keuntungan memahami dan menerapkan budaya positif. 

Termasuk juga ketika guru mampu mengetahui motivasi perilaku. Setiap orang dan tentu murid, tentu digerakkan oleh motivasi. Entah itu motivasi intrinsik atau ekstrinsik. Dengan mengenal, mengetahui, dan mampu menumbuhkan motivasi intrinsik, guru membantu murid untuk lebih berdaya. Menggerakkan segenap daya dan upayanya untuk mencapai kesejahteraan dirinya melalui motivasi yang terbangun dalam dirinya. 

    Dan yang tidak kalah seru tentunya adalah segitiga restitusi. Pada kegiatan ini ada tiga hal yang bisa guru lakukan. Validasi tindakan salah hingga menanyakan keyakinan. Tentu pada tindakan-tindakan ini, tujuan utamanya bagaimana membuat murid berdaya. Mampu mengetahui nilai kebajikan yang telah mereka sepakati bersama dalam sebuah keyakinan kelas untuk menyelesaikan perilaku tak produktif mereka. 

    Konsep budaya positif ini sungguh sangat menginspirasi saya dalam merumuskan aksi nyata. Saya susun lah aksi nyata berupa penginternalisasian budaya positif itu ke dalam lingkungan sekolah. Yakni salah satunya membentuk keyakinan kelas. Kemudian saya juga melatih segitiga restitusi untuk menghadapi anak yang melakukan perilaku malasuai. 

    Pada pembentukan keyakinan kelas saya mengenalkannya pada sebagian kelas bimbingan yang saya ampu. Sebanyak tiga kelas. Tiga kelas ini saya ajak untuk bersama merumuskan keyakinan kelas. Teknisnya yakni saya mengenalkan dulu apa itu keyakinan kelas, dan bagaimana mekanisme perumusannya. Saya mengajak anak-anak untuk membagi dalam kelompok-kelompok kecil, atau saya menyebutnya keluarga kecil. 

    Jadi tiap keluarga itu lah yang mengusulkan masing-masing usulan keyakinan kelasnya. Mereka mengusulkan keyakinan kelas pada tiap keluarganya, kemudian keyakinan kelas yang mereka usulkan itu akan dibahas bersama teman-teman satu kelas. Untuk kemudian mendapatkan saran dan kritik dari teman-temannya. 

    Pada tahap ini, murid-murid berlatih mandiri untuk memberikan saran, dan kritik kepada temannya. Sedangkan bagi keluarga penyaji maka berlatih untuk mendengarkan dan menanggapi atas saran dan kritik yang teman mereka lontarkan. Keterampilan mendengarkan dan menyampaikan pendapat ini juga menjadi bagian dari keterlibatan murid dan mendorong kepemimpinan murid. 

    Saat ini tahapan perumusan keyakinan kelas masih terus berlangsung dan terus melatih murid untuk bersama membuat keyakinan kelas bersama. Dari keyakinan kelas itu lah, budaya positif akan dimulai dan harapannya terbiasa dilakukan anak-anak saat ini dan seterusnya. 

    Dalam perumusan keyakinan itu pun melatih anak-anak menyampaikan kritik dan sarannya. Sehingga dapat menyampaikan berbagai masukan kepada temannya untuk pembuatan keyakinan kelas. Kemandirian untuk menyampaikan kritik dan saran itu pula yang menjadi bagian dari menumbuhkan kepemimpinan murid. 

    Akhirnya, memang kegiatan pembiasaan budaya positif ini sangat seru. Dan tentu tantangannya juga ada. Namun saya selalu bersemangat melaksanakannya. Demi pendidikan humanis yang terus tumbuh di sekolah. 










Cegah Kriminalisasi Melalui Dewan Etik Guru

  Oleh : Masbahur Roziqi Penulis adalah guru bimbingan dan konseling SMAN 1 Kraksaan Kabupaten Probolinggo Profesi guru ternyata masih r...